Berbicara tentang jiwa manusia berhasil mengalihkan kepedihan hidup kita. Sungguh mengherankan, dengan mendengar sedemikian banyak malapetaka di bumi ini, bobot penderitaan kita makin berkurang. Sehingga kita merasa jijik untuk mengeluh, di saat menyadari semua orang pun menderita.

Catching Up With Life

Apa rasanya menjadi seorang korban? Korban bullying, misalnya, atau korban pengkhianatan. Lalu apa rasanya menjadi seorang yang sakit atau cacat akibat kecelakaan? Apa rasanya menjadi orang yang berpikiran sempit dan picik karena bergaul dalam dunia pergaulan yang sempit? Apa rasanya menjadi seorang pendendam? Itulah orang yang tujuan hidupnya bukan mengarah ke masa depan, melainkan tujuan hidupnya mundur ke masa lalu. Dan terakhir, apa rasanya menjadi orang yang gagal mencapai target kemudian terus-terusan menyesal dan mengutuki dirinya sendiri?

Seluruh golongan di atas memiliki satu kemiripan masalah, yakni ketidakmauan mengejar kehidupan.

Waktu tidak pernah berhenti, selama itu pulalah kehidupan terus berjalan. Perubahan terjadi detik demi detik. Menjalani hidup sejalan dengan kecepatan roda kehidupan adalah sebaik-baiknya cara hidup. Tidak lebih cepat dan tidak lebih lamban. Namun ada kalanya manusia mengalami stagnansi atau kemunduran akibat kegagalan, kecelakaan, atau kerugian tiba-tiba.

Di sinilah pentingnya merenungi arti catching up with life. Semakin lama seseorang menunda catching up with life, maka semakin banyak ketertinggalannya -- semakin bertumpuk pula bebannya. Beban yang semakin banyak akan membuat hidup seseorang semakin menderita.

Aku ingat lagu nursery rhyme yang cocok untuk tema catching up with life ini, liriknya agak diganti sedikit :
Row - row - row your boat gently down the stream
Merrily - merrily - merrily, life is NOT a dream...

Membedakan baik dengan benar

Aku ingat 16 tahun yang lalu, waktu SD sepulang sekolah aku berdebat dengan Wibie Indradi, almarhum sahabatku, tentang golongan manusia calon penghuni surga. Dia berargumentasi, “Gue rasa kalo ada orang di dunia ini yang sepanjang hidupnya tinggal di dalam rumah, gak pernah kontak sama orang lain, gak pernah ada konflik sama orang lain, bahkan gak pernah dapat ajaran agama sekalipun, tetep bisa masuk surga. Selama orang itu gak bikin kesalahan sedikitpun, timbangan amalnya nol-nol untuk kebaikan dan kejahatan, gue yakin bakal masuk surga.”

Dari guru bahasa Indonesia di SD juga, kita pernah belajar tentang antonim atau lawan kata. Apa lawan katanya miskin? Kaya. Apa lawan katanya besar? Kecil. Apa lawan katanya baik? Jahat. Apa lawan katanya benar? Salah.
Tapi seiring bertambahnya umur, kadang kita melupakan nilai-nilai kecil yang pernah diterima sewaktu kanak-kanak. Gak sempat mikirin, alasannya. Makna kata baik dan benar, di pikiran orang dewasa yang setiap harinya disibukkan dengan mencari nafkah, menjadi tumpang tindih.

Contohnya, sering sekali kita dengar harapan orangtua-orangtua ketika anaknya baru lahir. “Semoga anak kami menjadi orang yang baik dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.” Atau sering juga kita dengan teman geng kita gosipin pacar atau gebetan mereka. Misalnya, “Eh, tau gak lo. Gue lagi naksir sama tu cowok, soalnya orangnya baik sih.”

Mungkin akan lucu kedengarannya, kalo mereka bilang: “Semoga anak kami menjadi orang yang benar dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.” Atau, “Eh, tau gak lo. Gue lagi naksir sama tu cowok, soalnya orangnya benar sih.”

Tentu saja untuk memaknai secara persis kedua kata itu, kita harus merujuk ke kamus bahasa Indonesia dan, supaya lebih yakin, kamus bahasa Inggris, kata kind dan right.

Kembali aku teringat ucapan bapak. “Waktu bapak kecil, eyang putri pernah bilang begini: Di dunia ini ada banyak orang yang baik, tapi hanya segelintir orang yang benar.”

Tujuh tahun yang lalu, aku ikut pelatihan kepemimpinan mahasiswa jurusan tingkat universitas dan kami nginap di Puncak, Cisarua. Salah satu pembicara seminarnya pernah mempertanyakan Robin Hood, legenda Inggris tentang ksatria yang mencuri dari pejabat-pejabat jahat nan korup kemudian membagi-bagikan hasil curiannya pada penduduk miskin. “Apakah Robin Hood baik atau jahat? Ia pembela kaum miskin, tapi ia juga melakukan pencurian.” Pertanyaan itu bisa disimpulkan, dari sudut kajian topik kali ini, menjadi, “Apakah tindakan Robin Hood baik atau benar?” Pada praktiknya di jaman sekarang, kata jahat, secara sosiolinguistik, merepresentasi suatu sifat yang melenceng dari kebenaran, walaupun lawan kata yang persis adalah salah.

Simak kekeliruan sangat kecil kita dalam pemakaian bahasa. Semua pencuri jahat, padahal seharusnya semua pencuri bersalah. Pada kasus Robin Hood, ia bukan pencuri yang jahat, ia justru baik banget membagi-bagi harta dengan penduduk miskin. Jahat dan salah sudah menjadi dua kata yang maknanya rancu, sama rancunya dengan baik dan benar. Dan memang biasanya kejahatan akan terwujud dalam bentuk pelanggaran hukum.

Contoh lainnya: seorang gadis menangis dan ia ditanya sahabatnya kenapa dia menangis. Gadis itu menjawab, “Pacar gue jahat. Gue diputusin. Katanya, dia mulai ngerasa gak cocok sama gue.” Apakah tindakan pacarnya mutusin hubungan itu suatu tindak kejahatan? Sementara mungkin yang dia inginkan hanya mengatakan kebenaran daripada membiarkan ketidakcocokan berlarut-larut dan kepura-puraan membuang umur mereka berdua.

Kebenaran dan kesalahan jelas mempunyai standar baku, yaitu peraturan atau hukum. Namun adakah standar baku untuk kebaikan? Lalu apa standar baku untuk kejahatan? Jika tidak ada standar baku untuk keduanya (tidak hitam pekat dan tidak putih bersih alias abu-abu) berarti ada opsi untuk tidak menjadi kedua-duanya yaitu datar/netral.

Mari meminjam matematika untuk menghitung jumlah golongan manusia berdasarkan kebaikan, kejahatan, kebenaran dan kesalahan. Dengan penyederhanaan pada satu antonim yaitu: jika salah, maka tidak benar (salah => tidak benar), maka didapatlah empat variabel yaitu baik (misalnya rajin sedekah, pintar bergaul), datar (tidak baik dan tidak jahat), jahat (niat/pikiran destruktif yang belum sampai merugikan orang lain namun bisa mengarah pada pelanggaran hukum nantinya, misalnya iri/dengki, senang lihat orang lain menderita, atau pikiran sadisme), dan benar (tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum), sehingga bisa dihitung jumlah tipe:

  1. Tipe manusia yang baik dan benar
  2. Tipe manusia yang baik dan tidak benar
  3. Tipe manusia yang datar dan benar
  4. Tipe manusia yang datar dan tidak benar
  5. Tipe manusia jahat dan benar
  6. Tipe manusia yang jahat dan tidak benar

Robin Hood masuk tipe yang mana ya? Menurit aku sih, tipe 2.