Berbicara tentang jiwa manusia berhasil mengalihkan kepedihan hidup kita. Sungguh mengherankan, dengan mendengar sedemikian banyak malapetaka di bumi ini, bobot penderitaan kita makin berkurang. Sehingga kita merasa jijik untuk mengeluh, di saat menyadari semua orang pun menderita.
Jijik Mengeluh
Berbicara tentang jiwa manusia berhasil mengalihkan kepedihan hidup kita. Sungguh mengherankan, dengan mendengar sedemikian banyak malapetaka di bumi ini, bobot penderitaan kita makin berkurang. Sehingga kita merasa jijik untuk mengeluh, di saat menyadari semua orang pun menderita.
Gempa Bumi dan Collective Limbic Awareness
Hari ini, Sabtu pagi, 27 Mei 2006, keluargaku ribut-ribut soal gempa bumi di Yogyakarta, kampung halaman bapak saya. Kami nonton TV dan menyaksikan sendiri bangunan-bangunan yang roboh. Bangunan-bangunan yang beberapa tahun lalu saya lihat, saat terakhir saya pulang kampung, berdiri kokoh dan tegak lurus dengan permukaan bumi namun pada hari ini tinggal reruntuhan atau condong untuk siap roboh. Aneh rasanya, bagaimana mungkin dalam 57 detik, gempa mengubah beberapa hal dalam kehidupan kita.
Saya coba kirim SMS kepada 3 teman saya yang tinggal Yogyakarta untuk mencari kabar sejauh mana kondisi mereka, sayangnya hanya 2 SMS yang terkirim—sinyal komunikasi ke Yogyakarta agak terganggu. Sementara itu, di ruang tengah, telpon rumah berdering beberapa kali. Para penelpon itu antara lain adik-adik bapak saya (yang tinggal di luar kota) dan keluarga ibu saya . Merekalah orang-orang yang pada saat yang sama merasakan desakan orbitofrontal cortex mereka untuk mengambil keputusan demi mencari tahu kabar saudara-saudaranya dengan merelakan pulsa terbuang demi kepuasan si otak limbic. Kemudian impuls menggerakkan tangan-tangan mereka untuk mengangkat gagang telpon dan menekan tombol angka, seperti halnya impuls menyuruh saya untuk mengetik SMS di handphone saya dan mengirimkannya kepada teman-teman saya.
Collective Limbic Awareness. Serentak. Kebersamaan. Kolektif. Istilah awamnya, hati manusia tergerak serempak untuk kemanusiaan. Ternyata benar, otak limbic (disebut juga otak mamalia) di dalam setiap kepala manusia memang bekerja. Dia tidak tidur, dia selalu aktif dan bereaksi terhadap setiap sensory stimulus yang menyentil otak mamalia tersebut. Stimulus diterima melalui indera penglihatan dan pendengaran, diteruskan ke otak yang kemudian memberikan somatic, visceral response atas sensasi yang ditimbulkan dari tayangan TV. Selanjutnya otak limbic memuaskan hasratnya akan ikatan kemanusiaan.
Dari sekian juta penduduk Indonesia yang sedang menyaksikan acara TV tentang gempa itu, tidak seluruhnya punya kaitan dengan Yogyakarta. Tapi saya yakin sekali, ada sedikit kekhawatiran menggores pikiran mereka ketika menyaksikan penderitaan sesama manusia, lalu empati membisiki otak limbic mereka, “Bagaimana jika gempa tersebut menimpa saya?”
Saya coba kirim SMS kepada 3 teman saya yang tinggal Yogyakarta untuk mencari kabar sejauh mana kondisi mereka, sayangnya hanya 2 SMS yang terkirim—sinyal komunikasi ke Yogyakarta agak terganggu. Sementara itu, di ruang tengah, telpon rumah berdering beberapa kali. Para penelpon itu antara lain adik-adik bapak saya (yang tinggal di luar kota) dan keluarga ibu saya . Merekalah orang-orang yang pada saat yang sama merasakan desakan orbitofrontal cortex mereka untuk mengambil keputusan demi mencari tahu kabar saudara-saudaranya dengan merelakan pulsa terbuang demi kepuasan si otak limbic. Kemudian impuls menggerakkan tangan-tangan mereka untuk mengangkat gagang telpon dan menekan tombol angka, seperti halnya impuls menyuruh saya untuk mengetik SMS di handphone saya dan mengirimkannya kepada teman-teman saya.
Collective Limbic Awareness. Serentak. Kebersamaan. Kolektif. Istilah awamnya, hati manusia tergerak serempak untuk kemanusiaan. Ternyata benar, otak limbic (disebut juga otak mamalia) di dalam setiap kepala manusia memang bekerja. Dia tidak tidur, dia selalu aktif dan bereaksi terhadap setiap sensory stimulus yang menyentil otak mamalia tersebut. Stimulus diterima melalui indera penglihatan dan pendengaran, diteruskan ke otak yang kemudian memberikan somatic, visceral response atas sensasi yang ditimbulkan dari tayangan TV. Selanjutnya otak limbic memuaskan hasratnya akan ikatan kemanusiaan.
Dari sekian juta penduduk Indonesia yang sedang menyaksikan acara TV tentang gempa itu, tidak seluruhnya punya kaitan dengan Yogyakarta. Tapi saya yakin sekali, ada sedikit kekhawatiran menggores pikiran mereka ketika menyaksikan penderitaan sesama manusia, lalu empati membisiki otak limbic mereka, “Bagaimana jika gempa tersebut menimpa saya?”
Siter

Musisi tradisional yang terabaikan di hiruk pikuk jalan raya, begitulah potret profesi wanita asal Solo ini. Saya dan teman saya menemukannya sedang duduk sendiri di sekitar Kali Malang, Jakarta Timur (13/05/2006). Tidak ada orang lain yang terlihat peduli untuk sekedar mendekat dan menikmati alunan siternya. Jika untuk mencari nafkah, berjualan makanan pasti menghasilkan pendapatan yang lebih banyak daripada menjadi pengamen siter. Namun ibu Sawitri, 52, yang bermain siter sejak 1970, memilih melestarikan budaya asli Indonesia daripada berorientasi pada materi.

Jika Anda ingin donwload video alunan siter ibu Sawitri, klik link ini