Berbicara tentang jiwa manusia berhasil mengalihkan kepedihan hidup kita. Sungguh mengherankan, dengan mendengar sedemikian banyak malapetaka di bumi ini, bobot penderitaan kita makin berkurang. Sehingga kita merasa jijik untuk mengeluh, di saat menyadari semua orang pun menderita.

Catching Up With Life

Apa rasanya menjadi seorang korban? Korban bullying, misalnya, atau korban pengkhianatan. Lalu apa rasanya menjadi seorang yang sakit atau cacat akibat kecelakaan? Apa rasanya menjadi orang yang berpikiran sempit dan picik karena bergaul dalam dunia pergaulan yang sempit? Apa rasanya menjadi seorang pendendam? Itulah orang yang tujuan hidupnya bukan mengarah ke masa depan, melainkan tujuan hidupnya mundur ke masa lalu. Dan terakhir, apa rasanya menjadi orang yang gagal mencapai target kemudian terus-terusan menyesal dan mengutuki dirinya sendiri?

Seluruh golongan di atas memiliki satu kemiripan masalah, yakni ketidakmauan mengejar kehidupan.

Waktu tidak pernah berhenti, selama itu pulalah kehidupan terus berjalan. Perubahan terjadi detik demi detik. Menjalani hidup sejalan dengan kecepatan roda kehidupan adalah sebaik-baiknya cara hidup. Tidak lebih cepat dan tidak lebih lamban. Namun ada kalanya manusia mengalami stagnansi atau kemunduran akibat kegagalan, kecelakaan, atau kerugian tiba-tiba.

Di sinilah pentingnya merenungi arti catching up with life. Semakin lama seseorang menunda catching up with life, maka semakin banyak ketertinggalannya -- semakin bertumpuk pula bebannya. Beban yang semakin banyak akan membuat hidup seseorang semakin menderita.

Aku ingat lagu nursery rhyme yang cocok untuk tema catching up with life ini, liriknya agak diganti sedikit :
Row - row - row your boat gently down the stream
Merrily - merrily - merrily, life is NOT a dream...

1 comment:

Joko Sarjono,S.S. said...

i'm for it I'm the victim of the "shit Happen" i know i live to revenge to somemeone has destroyed my life.....