Berbicara tentang jiwa manusia berhasil mengalihkan kepedihan hidup kita. Sungguh mengherankan, dengan mendengar sedemikian banyak malapetaka di bumi ini, bobot penderitaan kita makin berkurang. Sehingga kita merasa jijik untuk mengeluh, di saat menyadari semua orang pun menderita.

Membedakan baik dengan benar

Aku ingat 16 tahun yang lalu, waktu SD sepulang sekolah aku berdebat dengan Wibie Indradi, almarhum sahabatku, tentang golongan manusia calon penghuni surga. Dia berargumentasi, “Gue rasa kalo ada orang di dunia ini yang sepanjang hidupnya tinggal di dalam rumah, gak pernah kontak sama orang lain, gak pernah ada konflik sama orang lain, bahkan gak pernah dapat ajaran agama sekalipun, tetep bisa masuk surga. Selama orang itu gak bikin kesalahan sedikitpun, timbangan amalnya nol-nol untuk kebaikan dan kejahatan, gue yakin bakal masuk surga.”

Dari guru bahasa Indonesia di SD juga, kita pernah belajar tentang antonim atau lawan kata. Apa lawan katanya miskin? Kaya. Apa lawan katanya besar? Kecil. Apa lawan katanya baik? Jahat. Apa lawan katanya benar? Salah.
Tapi seiring bertambahnya umur, kadang kita melupakan nilai-nilai kecil yang pernah diterima sewaktu kanak-kanak. Gak sempat mikirin, alasannya. Makna kata baik dan benar, di pikiran orang dewasa yang setiap harinya disibukkan dengan mencari nafkah, menjadi tumpang tindih.

Contohnya, sering sekali kita dengar harapan orangtua-orangtua ketika anaknya baru lahir. “Semoga anak kami menjadi orang yang baik dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.” Atau sering juga kita dengan teman geng kita gosipin pacar atau gebetan mereka. Misalnya, “Eh, tau gak lo. Gue lagi naksir sama tu cowok, soalnya orangnya baik sih.”

Mungkin akan lucu kedengarannya, kalo mereka bilang: “Semoga anak kami menjadi orang yang benar dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.” Atau, “Eh, tau gak lo. Gue lagi naksir sama tu cowok, soalnya orangnya benar sih.”

Tentu saja untuk memaknai secara persis kedua kata itu, kita harus merujuk ke kamus bahasa Indonesia dan, supaya lebih yakin, kamus bahasa Inggris, kata kind dan right.

Kembali aku teringat ucapan bapak. “Waktu bapak kecil, eyang putri pernah bilang begini: Di dunia ini ada banyak orang yang baik, tapi hanya segelintir orang yang benar.”

Tujuh tahun yang lalu, aku ikut pelatihan kepemimpinan mahasiswa jurusan tingkat universitas dan kami nginap di Puncak, Cisarua. Salah satu pembicara seminarnya pernah mempertanyakan Robin Hood, legenda Inggris tentang ksatria yang mencuri dari pejabat-pejabat jahat nan korup kemudian membagi-bagikan hasil curiannya pada penduduk miskin. “Apakah Robin Hood baik atau jahat? Ia pembela kaum miskin, tapi ia juga melakukan pencurian.” Pertanyaan itu bisa disimpulkan, dari sudut kajian topik kali ini, menjadi, “Apakah tindakan Robin Hood baik atau benar?” Pada praktiknya di jaman sekarang, kata jahat, secara sosiolinguistik, merepresentasi suatu sifat yang melenceng dari kebenaran, walaupun lawan kata yang persis adalah salah.

Simak kekeliruan sangat kecil kita dalam pemakaian bahasa. Semua pencuri jahat, padahal seharusnya semua pencuri bersalah. Pada kasus Robin Hood, ia bukan pencuri yang jahat, ia justru baik banget membagi-bagi harta dengan penduduk miskin. Jahat dan salah sudah menjadi dua kata yang maknanya rancu, sama rancunya dengan baik dan benar. Dan memang biasanya kejahatan akan terwujud dalam bentuk pelanggaran hukum.

Contoh lainnya: seorang gadis menangis dan ia ditanya sahabatnya kenapa dia menangis. Gadis itu menjawab, “Pacar gue jahat. Gue diputusin. Katanya, dia mulai ngerasa gak cocok sama gue.” Apakah tindakan pacarnya mutusin hubungan itu suatu tindak kejahatan? Sementara mungkin yang dia inginkan hanya mengatakan kebenaran daripada membiarkan ketidakcocokan berlarut-larut dan kepura-puraan membuang umur mereka berdua.

Kebenaran dan kesalahan jelas mempunyai standar baku, yaitu peraturan atau hukum. Namun adakah standar baku untuk kebaikan? Lalu apa standar baku untuk kejahatan? Jika tidak ada standar baku untuk keduanya (tidak hitam pekat dan tidak putih bersih alias abu-abu) berarti ada opsi untuk tidak menjadi kedua-duanya yaitu datar/netral.

Mari meminjam matematika untuk menghitung jumlah golongan manusia berdasarkan kebaikan, kejahatan, kebenaran dan kesalahan. Dengan penyederhanaan pada satu antonim yaitu: jika salah, maka tidak benar (salah => tidak benar), maka didapatlah empat variabel yaitu baik (misalnya rajin sedekah, pintar bergaul), datar (tidak baik dan tidak jahat), jahat (niat/pikiran destruktif yang belum sampai merugikan orang lain namun bisa mengarah pada pelanggaran hukum nantinya, misalnya iri/dengki, senang lihat orang lain menderita, atau pikiran sadisme), dan benar (tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum), sehingga bisa dihitung jumlah tipe:

  1. Tipe manusia yang baik dan benar
  2. Tipe manusia yang baik dan tidak benar
  3. Tipe manusia yang datar dan benar
  4. Tipe manusia yang datar dan tidak benar
  5. Tipe manusia jahat dan benar
  6. Tipe manusia yang jahat dan tidak benar

Robin Hood masuk tipe yang mana ya? Menurit aku sih, tipe 2.

1 comment:

Unknown said...

Kebaikan dan kejahatan itu memang rancu ...tapi tentu saja memang banyak yang hal2 rancu tapi diamini oleh banyak orang di Indonesia mungkin...seperti orang yang tidak pernah kontak dgn rang lain, tidak pernah menemui konflik dalam hidupnya, ga pernah keluar rumah dst...dst...tentu masuk surga ..krn diliat dari perspektif timbangan kesalahannya nol ...kalo menurutq itu agak tidak tepat ...meski belum tentu salah banget (Pendapat ini diamini oleh salah satu pembicara acara GOLDEN WAYS Metro TV tiap jam 7 malam hari minggu...Nonton deh biar semakin terbuka melihat dunia ini...). Saya menulis hal ini bukannya saya mengatakan bahwa saya adalah org yang tidak pernah berbuat kesalahan ...saya pernah berbuat kesalahan dan pasti tidak cuma sekali (tapi yg terpenting adalah qta berusaha memperbaiki diri qt menjadi semakin baik dan semakin baik)...dalam hal ini saya hanya ingin memberikan pendapat utk meluruskan kesalahkaprahan yang terjadi, yang ternyata diikuti banyak orang (bahkan para ahli spiritual tmasuk pengajar dalam hal agama).
Benar sekali pendapat Bu Guru hening yang menyatakan bahwa semua ini adalah kerancuan ..karena kebenaran abadi adalah milik Yang Kuasa dan yang terjadi di dunia ini (tentang hal baik dan tdk baik)adalah dilihat dari sudut pandang orang yang melihatnya ...orang kaya akan menilai robin hood = pencuri yang tidak tahu diuntung yang mengambil harta dari org yang berusaha dari keringatnya sendiri kmdn orang miskin akan melihatnya sebagai dewa penyelamat dari kemiskinan...Dan dilihat dari sudut pandang saya ..orang yang ga pernah kluar dr rumah, ga berinteraksi,ga pernah berkonflik, dll adalah orang yang sangat bersalah ... bersalah karena apa...karena dia tidak memanfaatkan apa yang diberikan Tuhan kepada kita ...Tuhan memberikan kita berbagai hal dalam hidup dan yang terutama adalah pengetahuan...dan orang yang tidak mengamalkan apa yang didapatnya dari Tuhan adalah termasuk orang2 yang bodoh, dan kaum ini adalah kaum yang dibenci oleh Tuhan (tertulis dalam Quran dan Hadistnya bahkan di Alkitab milik sahabat qt Kristiani dikatakan bahwa dia yang tidak mau mengamalkan Talenta yang diberikan Tuhan adalah orang yang akan masuk dalam kegelapan dimana hanya ada kesakitan dan kertak gigi. Ups...panjang juga yaa...lha terus kalo kasusnya bayi yang meninggal waktu lahir gmana kan langsung masuk surga tho ... wah salah kaprah lagi menurut saya tuh...Tahu dari mana dia klo akan masuk surga ...sekedar ilustrasi...mungkin pernah dengar mitologi orang mati harus membawa 2 uang perak untuk naik kapal? ...bukan uang peraknya yang penting tetapi bahwa orang mati, kmdn agar dia bisa menuju ke Tuhan itu ada perjalanannya ... (Mirip orang naik haji...itu seperti ilustrasi orang yang mau meninggal..meninggalkan dunia) dan perjalanan itu juga dilalui oleh si bayi itu (menurut sufisme akan lebih dalam lagi...apalagi hinduisme...wah makin panjang aja). Yang jelas menurut saya qta yang sudah hidup lama ini, yang sudah tahu banyak mengenai banyak ilmu ini jauh lebih beruntung daripada bayi yang sudah meninggal itu, kenapa...karena kita sudah menjalani masa orientasi selama kita hidup (semoga aja ilmu yang dibaca dan diamalkan bener sehingga tdk salah jalan ...ato malah menjadi fanatis..wah malah semakin tersesat itu)..artinya kita mendapatkan kesempatan untuk bermetamorfosis menjadi lebih baik lagi sehingga langkah qta utk menjadi manusia sempurna (paripurna) dapat terwujud (di hindu bahkan dikenal reinkarnasi dimana setiap kehidupan akan mengarah ke arah kehidupan yang akan semakin baik dan ilmu kehidupan qt akan semakin dalam pula tetapi itu tergantung dari hal yang sudah saya sebutkan tadi lho) ...sedangkan si bayi tadi masih harus mengulang pelajaran kehidupan agar semakin baik lagi ..(artinya dia akan lahir lagi..lahir lagi..lahir lagi...Surat Al Baqarah ayat 120an deh..lupa nih). Oleh karena itu ..harus diingat deh ...bahwa Hanya Dialah yang memiliki arti Kebenaran yang sesungguhnya ...sedangkan qt2 ini hanya benar/salah dari sudut pandang orang lain..(kasian ya). So jangan pikirkan kata orang di Dunia ...lakukan yang terbaik meski orang lain mengatakan buruk ..seperti ilustrasi Kalo ketemu orang yang qt kenal, lebih baik qt dulu yang senyum atau orang lain yang harus senyum kesaya...nanti saya dikatain sok kenal, sok akrab, dll? Kata si pembicara itu ...klo kita senyum kita tetep diomongin kan sama orang2 apalagi jika qt tidak senyum...yah tetep diomongin kan ...ya udah..SENTUM AJA ...biarin aja dia ngomongin qt yang penting qt sudah melakukan yang terbaik..dan melakukan yang terbaik bagi orang lain adalah juga melakukan yang terbaik bagi Tuhan karena Tuhan ada di dalam hati setiap orang ..dan siapa tau orang yang kita beri senyum merasa berbahagia ..krn mungkin pada hari itu dia mengalami banyak kesusahan dan senyum anda membuat hidupnya merasa lebih baik....SIAPA TAHU!!!!....by M41271N