Berbicara tentang jiwa manusia berhasil mengalihkan kepedihan hidup kita. Sungguh mengherankan, dengan mendengar sedemikian banyak malapetaka di bumi ini, bobot penderitaan kita makin berkurang. Sehingga kita merasa jijik untuk mengeluh, di saat menyadari semua orang pun menderita.

Maha Tuhan

Akhir-akhir ini pikiran saya disibukkan oleh sebuah pernyataan yang dilontarkan oleh seseorang yang menyatakan dirinya filosofis. Orang tersebut menantang siapapun yang percaya eksistensi Tuhan. Katanya, “Jika Tuhan, seperti yang dikatakan banyak orang, Maha Pencipta segalanya, maka kenapa tidak Tuhan ciptakan suatu ‘zat’ yang lebih maha daripada Tuhan sendiri?”

Orang-orang tua bilang agar kita tidak mempermainkan nama Tuhan, bisa kualat. Namun seiring perkembangan kebebasan ber-manusia, manusia menjadi kurang ajar berpikir yang tidak-tidak tentang penciptanya.
Saya tidak bermaksud membela Tuhan. Buat apa membela Tuhan? Tanpa dibela sekalipun, toh Tuhan tidak akan rugi. Tuhan juga tidak sedih apalagi putus asa apabila manusia tidak mempercayainya. Tuhan tidak lantas gulung tikar lalu menghilang tiba-tiba. TIDAK. Tuhan tidak begitu. Kemampuan Tuhan berada di luar pemahaman manusia.
Jawaban saya untuk tantangan tersebut adalah: Tuhan tidak menciptakan sesuatu yang tidak perlu. Walaupun Tuhan benar-benar kesepian di atas sana, Tuhan tidak pernah menciptakan ayah dan ibuNya sendiri, saudara kandung, atau jodohNya sendiri. Jikapun harus ada ayah dan ibu Tuhan, lalu untuk apa fungsi ayah dan ibu Tuhan? Konsep orang tua dan anak adalah untuk manusia. Konsep bahwa manusia arsitek bisa membangun bangunan yang lebih kokoh, perkasa, dan besar daripada tubuhnya sendiri adalah juga konsep untuk manusia.
Tuhan hanya ingin menciptakan alam semesta dan khalifah. Tuhan tidak punya istilah lebih atau kurang, muda atau tua, cantik atau jelek, intinya, Tuhan tidak butuh atribut semacam itu.
Tuhan terletak di luar konsep tersebut. Tuhan-lah segala ujung, segala maha. Di atas Tuhan tidak ada siapa-siapa lagi. Harus ada ‘sesuatu’ yang membatasi ‘sesuatu’. Dan batas segala sesuatu itu disebut Tuhan. Jika manusia ingin sesuatu yang lebih besar dan lebih maha daripada Tuhan, maka ia harus keluar dari alam ini. Bukan cuma keluar angkasa atau ke alam gaib, tetapi keluar dari semua konsep ini. Dan ia tidak boleh mengaku-aku bahwa tinggal di alam semesta adalah haknya, sebab semesta saja masih kuasa Tuhan.

Wallahualam. Semua perkataan saya yang benar asalnya dari Tuhan, jika salah itu akibat keterbatasan ilmu saya.

Si Lugu

Di benak orang-orang lugu, dunia terlalu jahat dan sengsara. Sejarah hanya berisi kemenangan orang-orang ambisius yang pantang ampun. Seperti halnya sandiwara, akan hambar tanpa pertikaian dan hawa nafsu.