Berbicara tentang jiwa manusia berhasil mengalihkan kepedihan hidup kita. Sungguh mengherankan, dengan mendengar sedemikian banyak malapetaka di bumi ini, bobot penderitaan kita makin berkurang. Sehingga kita merasa jijik untuk mengeluh, di saat menyadari semua orang pun menderita.
Si Lugu
Di benak orang-orang lugu, dunia terlalu jahat dan sengsara. Sejarah hanya berisi kemenangan orang-orang ambisius yang pantang ampun. Seperti halnya sandiwara, akan hambar tanpa pertikaian dan hawa nafsu.
Sedikit Mendengarkan, Banyak Bicara
Anda boleh percaya atau tidak, begitulah egisme manusia. Kita hanya menangkap informasi dari orang lain secara garis besar (poin-poin utama). Kita seutuhnya mengandalkan daya ingat dan sensasi perasaan yang ditimbulkan dari ucapan orang lain, padahal tingkat akurasi daya ingat dan sensasi belum tentu sama persis dengan maksud si pembicara. Kita jarang sekali mengingat kata per kata, bahkan sedikit sekali dari kita yang peduli dengan makna simbolik dan bahasa tubuh lawan bicara. Jika sang lawan bicara kita anggap bertele-tele, dengan teganya kita bisa menguap, melamun, atau mengalihkan pandangan dengan harapan lawan bicara mengerti bahwa kita bosan! Bisa disimpulkan, kita memakai sedikit sekali tenaga untuk mendengarkan orang lain.
Sebaliknya, ketika tiba giliran kita untuk bicara, bukan main bertele-tele kata-kata kita. Mengapa kita sendiri bertele-tele, sementara kita tidak suka orang lain bertele-tele? Kemungkinan, kita akan mengelak, “Saya bukannya bertele-tele, tapi saya menjelaskan panjang lebar supaya lawan bicara tidak salah tafsir.”
Manusia memang senang menganggap dirinya dan segala ucapannya penting sehingga patut didengarkan orang lain. Namun jika semua orang ingin menonjol, apa jadinya dunia? Toleransi harus ada untuk mengimbangi kehendak-kehendak yang saling berbenturan itu.
Kebiasaan manusiawi seperti ini barangkali yang menjadi alasan mengapa siaran berita di TV selalu mengedepankan headline. Headline selalu disebut di awal siaran, kemudian diikuti berita selengkapnya. Produser program acara barangkali telah mempelajari keinginan praktis para penonton yang lebih tertarik dengan intisari berita. Jika sudah tergugah dengan intisari berita, diharapkan, para penonton akan terus menonton untuk menyimak berita selengkapnya. Siaran berita TV adalah komunikasi satu arah, jika penonton tak tertarik, tinggal ganti saluran atau matikan TV. Sementara percakapan antar manusia adalah komunikasi dua arah –yang seharusnya lebih fleksibel dan efektif.
Jadi, jika omongan Anda ingin disimak oleh lawan bicara, berujarlah secara efisien seperti siaran berita TV. Jika lawan bicara kita memang tertarik dengan topik kita, setidaknya ia akan melemparkan pertanyaan klarifikasi. Jika tidak, kemungkinan lawan bicara memang sudah menangkap topik secara cermat. Namun masalah umum yang sering terjadi adalah misinterpretasi (salah penafsiran). Bila misinterpretasi hingga gontok-gontokan sampai terjadi, silakan kembali pada kalimat ini: Siapa yang bilang, berkomunikasi itu mudah?
Sebaliknya, ketika tiba giliran kita untuk bicara, bukan main bertele-tele kata-kata kita. Mengapa kita sendiri bertele-tele, sementara kita tidak suka orang lain bertele-tele? Kemungkinan, kita akan mengelak, “Saya bukannya bertele-tele, tapi saya menjelaskan panjang lebar supaya lawan bicara tidak salah tafsir.”
Manusia memang senang menganggap dirinya dan segala ucapannya penting sehingga patut didengarkan orang lain. Namun jika semua orang ingin menonjol, apa jadinya dunia? Toleransi harus ada untuk mengimbangi kehendak-kehendak yang saling berbenturan itu.
Kebiasaan manusiawi seperti ini barangkali yang menjadi alasan mengapa siaran berita di TV selalu mengedepankan headline. Headline selalu disebut di awal siaran, kemudian diikuti berita selengkapnya. Produser program acara barangkali telah mempelajari keinginan praktis para penonton yang lebih tertarik dengan intisari berita. Jika sudah tergugah dengan intisari berita, diharapkan, para penonton akan terus menonton untuk menyimak berita selengkapnya. Siaran berita TV adalah komunikasi satu arah, jika penonton tak tertarik, tinggal ganti saluran atau matikan TV. Sementara percakapan antar manusia adalah komunikasi dua arah –yang seharusnya lebih fleksibel dan efektif.
Jadi, jika omongan Anda ingin disimak oleh lawan bicara, berujarlah secara efisien seperti siaran berita TV. Jika lawan bicara kita memang tertarik dengan topik kita, setidaknya ia akan melemparkan pertanyaan klarifikasi. Jika tidak, kemungkinan lawan bicara memang sudah menangkap topik secara cermat. Namun masalah umum yang sering terjadi adalah misinterpretasi (salah penafsiran). Bila misinterpretasi hingga gontok-gontokan sampai terjadi, silakan kembali pada kalimat ini: Siapa yang bilang, berkomunikasi itu mudah?