Berbicara tentang jiwa manusia berhasil mengalihkan kepedihan hidup kita. Sungguh mengherankan, dengan mendengar sedemikian banyak malapetaka di bumi ini, bobot penderitaan kita makin berkurang. Sehingga kita merasa jijik untuk mengeluh, di saat menyadari semua orang pun menderita.

Inferiority Complex

Seorang ibu membawa tiga anaknya yang masih kecil ke kebun binatang. Ketika melewati kandang singa, dengan diliputi rasa ngeri ketiga anaknya tertegun menyaksikan kegagahan si raja hutan itu. Tiba-tiba, si singa berjalan mendekati ketiga anak tersebut dan berhenti tepat di depan terali kandang.
Si ibu menarik mundur anak-anaknya. Komentar anak pertama (sedikit histeris), "Ibu, mari kita pulang. Aku takut." Anak kedua tidak berkomentar apa-apa, tapi ia bersembunyi di balik tubuh ibunya dan dengan takut-takut tetap menatap si singa. Komentar anak ketiga, "Ada yang bawa pisau cutter atau tidak? Aku mau mencabik-cabik singa itu."

Jika kita perhatikan sekilas, kita langsung menebak siapa anak yang penakut, biasa saja, dan pemberani. Begitu bukan? Tapi tidak begitu menurut psikiater Alfred Adler. Menurutnya, ketiga anak tersebut sama-sama memiliki inferiority complex terhadap suatu objek, yang dalam hal ini adalah singa.

Sintingkah orang yang menderita inferiority complex?
Tidak. Adler bilang (1931), "People are struggling forever to overcome their feelings of inferiority." Selamanya, orang-orang selalu berusaha mengatasi perasaan inferior mereka. Menurutnya, setiap orang berusaha dengan strategi mereka masing-masing untuk mengatasi inferiority complex.

Kalau begitu, apakah definisi dan ciri inferiority complex?
Dikutip dari www.wikipedia.org, inferiority complex is a feeling that one is inferior to others in some way. It is often unconscious, and is thought to drive afflicted individuals to overcompensate, resulting either in spectacular achievement or extreme antisocial behaviour. Unlike a normal feeling of inferiority, which can act as an incentive for achievement, an inferiority complex is an advanced state of discouragement, often resulting in a retreat from difficulties. Dari sumber lain saya mengutip, inferiority complex is formed when someone fails repeatedly to overcome weaknesses and achieve some mastery or simply places excessive emphasis on some particular inferiority.

Ciri inferiority complex adalah segala tindakan/sikap yang berlebihan (overcompensate=kompensasi berlebihan; excessive emphasis=penekanan berlebihan) dalam mengatasi kelemahan diri. Sering pula inferiority complex merupakan upaya seseorang melarikan diri dari masalah.

No comments: