Berbicara tentang jiwa manusia berhasil mengalihkan kepedihan hidup kita. Sungguh mengherankan, dengan mendengar sedemikian banyak malapetaka di bumi ini, bobot penderitaan kita makin berkurang. Sehingga kita merasa jijik untuk mengeluh, di saat menyadari semua orang pun menderita.

We Only See What Our Eyes Want To See



Kalo kita berpegangan dengan prinsip di atas, kita nggak akan pernah bisa objektif menilai seseorang. Cowok yang memegang prinsip ini juga nggak akan dapat jodoh sejati, begitu pula cewek. Karena setiap mata maunya cuma melihat kemolekan materi, dengan mengabaikan keindahan lain yang tersembunyi di dalamnya, misalnya bakat dan kebaikan hati.
Diibaratkan di antara 100 orang kandidat, hanya ada 25 orang yang physically attractive, lantas sisanya dibuang karena mereka jelek. Alangkah ruginya! Padalah justru di antara yang jelek-jelek itu terdapat sesuatu yang sesungguhnya kita cari.

PENTING ! Merespon komentar Sdr Naripan

Berikut adalah kutipan dari komentar Naripan dalam artikel Mana yang Benar: Mengubah atau merubah?:
=============================
1 Comment -Show Original Post

naripan said...
Maaf Mrs. Hening...Dian...Paramita, saya sedikit komentar bahwa pada saat anda berbicara tata bahasa yang benar, saya lihat ada kata yang tidak baku di tulisan anda. Jadi mana yang benar : Kalo atau Kalau?
Maaf ya......

12:44 AM
============================Respon saya:
1. Cara penyampaian artikel tersebut s-e-n-g-a-j-a saya buat tidak baku karena web log ini bersifat personal/milik saya pribadi dan cakupannya kecil. Web log saya ini toh bukan web log resmi/lembaga pers yang akan mempengaruhi pola pikir bangsa. Otomatis, adalah hak saya untuk memakai bahasa apapun dalam web log ini.

2. (a) Kata KALAU berubah menjadi KALO atau KALU dalam bahasa Betawi. Dalam motto Jakarta Barat, mantan Walikota Sarimun Hadisaputra mempublikasikan kalimat KAMPUNG KITE KALO BUKAN KITE NYANG NGURUSIN, SIAPE LAGI?. Saya yakin sekali, pihak walikotamadya pasti dalam keadaan sadar saat mempublikasikan kalimat tersebut. Mereka juga pasti mengetahui bahwa bentuk asal kata KALO adalah KALAU. Hal tersebut dibenarkan karena memang konteks motto tersebut adalah kebetawi-betawian.
(b) Sedangkan kesalahan tata bahasa mengubah --> merubah diakibatkan ketidaktahuan atau ketidaksadaran atas kesalahan bentuk bahasa. Inilah yang saya tekankan untuk kita rombak bersama. Renungkan saja i-s-i & objektif(tujuan) artikelnya, jangan justru mempermasalahkan bahasa penyampaiannya. Jika terbukti isinya tidak sesuai dengan peraturan resmi tata bahasa, sebutkan kesalahannya dan sumber pustaka/bibliografinya. Saya pasti terima kritik rasional semacam itu.

3. Sdr Naripan, berikut adalah dua kesalahan dalam komentar Anda:
(a) Kesalahan kata sapaan.
Kata a-n-d-a dalam bentuk kata sapaan selalu memakai huruf kapital pada huruf awal, sehingga seharusnya tertulis : A-n-d-a.
(b) Kesalahan titel Mrs.
Anda menulis “Mrs. Hening Dian Paramita”. Mrs berarti Nyonya, sementara kata Nyonya harus selalu diikuti nama suami. Wanita yang belum atau sudah menikah sekalipun, jika harus memakai titel di depan namanya sendiri, memakai kata Miss. Sehingga seharusnya tertulis: Ms. Hening Dian Paramita.